The Last Page of Secret Admirer’s Journal

Ya … gak semua cerita endingnya harus bagus kan?

Gue memutuskan buat gak menggembok artikel ini dan membiarkan postingan ini terbaca apa adanya. Meskipun gue masih harus tetap menggunakan nama samaran, sih. Dan disinilah, gue mau menuliskan akhir cerita dari trilogi Secret Admirer Journal.

Udah diduga sih, ending dari cerita sama crush yang satu ini bakal sama kayak crush SMP di Story of My Life Ruiner no.1. Bahkan yang ini jauh, jauh, lebih hopeless dari crush masa SMP gue yang dulu, Lele. Sewaktu naksir Lele, gue masih punya banyak momen bersama dia di sekolah dan hampir setiap hari gue berpapasan dengannya. Namun, buat yang satu ini, kami benar-benar gak punya satupun wadah untuk berinteraksi.

Tugas akhir, sidang akhir, dan yudisium online sudah berhasil dilalui sampai September ini dengan lancar. Sekarang, tinggal saatnya gue menunggu wisuda sambil mempersiapkan portofolio dan mengawali karir. Sudah hampir setahun sejak gue nge-crushin… uh, pakai nama samaran apa ya? Ah, kayaknya Lebah adalah namanya in disguise (gue putuskan untuk memanggilnya lebah karena paling mendekati namanya). Ya, sudah hampir setahun gue menaruh perasaan padanya dan belum ada kemajuan apapun. Gue hanya bertemu dia di kampus, mungkin bisa dihitung jari selama pandemi ini. Akhirnya sekarang pun gue sudah lulus dan tidak akan lagi menginjakkan kaki di universitas. Gue sudah gagal, bahkan sebelum memulai.

Gue sudah tidak percaya lagi dengan takdir-takdir seperti di film atau novel roman picisan, dimana suatu saat nanti gue akan bertemu Lebah di tempat yang tak terduga, dan akhirnya bersatu. Buktinya adalah Lele, sampai detik ini pun gue belum melihat wajahnya lagi setelah wisuda SMP. Menyadari bahwa sampai saat ini takdir belum juga mempertemukan gue dan Lele, mungkin hal yang sama juga akan terjadi pada Lebah. Halaman itu akan tertutup sampai disini saja. Dia, dan segelintir orang-orang lain yang hanya sekedar lewat sebentar di kehidupan gue tidak akan pernah muncul lagi untuk kedepannya.

Gue juga tidak bisa berjanji untuk langsung melupakannya dengan cepat begitu lulus dari universitas. Butuh waktu, untuk benar-benar melupakan dan membuka hati untuk cinta berikutnya. Standar yang diciptakan Lebah cukup tinggi, dan sampai detik ini gue belum menemukan lagi cowok-cowok di sekitar gue yang berhasil memenuhinya. Teman-teman cowok gue di SMA? Gue tidak akan mengusik mereka dengan pacar-pacarnya, dan gue masih bersahabat baik dengan mereka sampai sekarang ini.

Meskipun gue belum pernah maju, tapi gue sangat sadar diri. Setelah difikir cukup panjang, probabilitasnya memang sangat kecil bagi gue. Meskipun gue tahu gue dan Lebah adalah hal yang mustahil, gue sebenarnya tidak berharap banyak (selama ini harapan terbesar gue padanya hanya ingin bertemu atau melihatnya dari kejauhan!). Tapi entah kenapa rasanya lelah. Lelah banget merasa senang pada hal yang sebenernya kosong dan bukan apa-apa. Lelah banget suka sama sesuatu yang gak bisa digapai bahkan diusahakan. Dengan ini gue menyatakan mundur dan gak akan berekspektasi apapun lagi soal Lebah, beserta bayangan akan kemungkinan-kemungkinan gue dan Lebah akan berinteraksi lalu kenal lebih jauh. Karena, dari awal hubungan kita tidak pernah ada.

Dan sekarang, do’a gue sudah berubah. Dari yang dulu gue berharap besar untuk dekat dengannya dan menjalin hubungan spesial, sekarang menjadi “siapapun cowok yang gue suka setelah Lebah, maka dialah orangnya”

Meskipun perasaan ini gak bisa terhapus begitu saja, meskipun untuk beberapa saat ini bayangannya masih akan ada, tapi gue yakin, suatu saat nanti perasaan ini akan berkurang.

Dan akan ada yang jauh lebih baik untuk gue suatu saat nanti.

So long,

See you when i see you, Bee.